Page 10 - Tabloid Terbang.cdr
P. 10

Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan  .mazmur 127Edisi :

  IX/Oktober/2018/hal 1Official tabloid of Terang Bangsa Christian Senior High School




      Aku mulai memainkan partitur tersebut tanpa menyadari                         Banyak  dari  impian  kita  yang  awalnya  tampak  mustahil,
      bahwa ada sepasang mata yang memperhatikanku sejak                            maka mereka tampak tidak mungkin terjadi, dan kemudian,
      tadi.                                                                         ketika kita membangun kehendak, mereka segera menjadi
                                                                                    tak  terelakkan,"  kata  Felix.  "Itu  yang  Mama  katakan
      "Lia, kamu belum tidur?" tanya Mama. Aku tersentak dan                        kepadamu bukan?"
      menoleh  ke  arah  Mama.  "Ini  sudah  jam  10  malam  lho                    Air mata yang kubendung sejak tadi tidak bisa kutahan lagi.
      sayang, nanti kamu kecapekan," lanjut Mama. "Sebentar                         Aku  menatap  semua  penghuni  panti  yang  berada  di
      lagi ma, aku masih belum ngantuk kok," jawabku sambil                         belakang Felix. "Lia, kamu adalah hadiah dari Tuhan untuk
      menuliskan not-not yang baru saja kumainkan. "Ya sudah                        kami," kata Kak Naomi. "Begitu juga untuk Mama, pasti dari
      kalau  begitu,  jangan  malam-malam  ya,  nanti  kamu                         dalam lubuk hatinya ia sangat mencintaimu." Aku teringat
      kecapekan." "Oke deh ma!" Mama kembali ke kamarnya                            akan kata-kata Mama 11 tahun yang lalu.
      dan aku melanjutkan pekerjaanku sampai larut malam.                           "Kesuksesan  bukanlah  tentang  seberapa  banyak  uang
                                                                                    yang  kamu  hasilkan,  tapi  seberapa  besar  kamu  bisa
      Esoknya,  aku  berpamitan  kepada  Mama  sebelum  aku                         membawa perubahan untuk hidup orang lain."
      berangkat ke sekolah seperti biasa. Tapi, senyum mama                         Aku berdiri dan mengusap air mataku. "Kak, sekarang jam
      tidak  seperti  biasanya  pagi  ini.  "Ma,  Lia  berangkat  ke                berapa?" tanyaku kepada Kak Naomi. "Sekarang masih jam
      sekolah dulu ya!" ucapku sembari mencium tangan mama.                         8.34, masih sempat untuk mengikuti audisi itu," jawab Kak
      Mama tersenyum dan memelukku, mencium dahiku dan                              Naomi. "Kak Lia, ini tas kakak!" kulihat Lisa membawakan
      berkata,  "Jangan  pernah  menyerah  untuk  mengejar                          tasku dan buku partitur yang berisi lagu-lagu buatanku. Aku
      mimpimu.  Tuhan  memberikan  kita  impian  yang  begitu                       tersenyum dan melihat satu per satu wajah mereka. "Terima
      besar  agar  kita  bisa  tumbuh  di  dalamnya.  Banyak  dari                  kasih, semuanya" kataku dengan penuh makna. Aku segera
      impian kita yang awalnya tampak mustahil, maka mereka                         berlari  menuju  tempat  audisi  tersebut,  meninggalkan
      tampak tidak mungkin terjadi, dan kemudian, ketika kita                       mereka semua.
      membangun  kehendak,  mereka  segera  menjadi  tak
      terelakkan." Dadaku terasa sesak mendengar perkataan                          Tuhan, aku tidak ingin mengecewakan mereka semua, aku
      Mama.  "Terima  kasih  Ma,"  jawabku,  "Aku  akan                             tidak ingin mengecewakan Mama. Bantu aku, Tuhan. Aku
      mempersembahkan  yang  terbaik  untuk  Mama  besok!"                          akan meraih mimpiku sekarang dan membawa perubahan
      Mama hanya tersenyum dalam diam, dan aku berangkat                            untuk mereka.
      ke  sekolah  setelah  melihat  wajah  Mama  untuk  yang                       Aku akan menerobos semua halangan yang ada,
      terakhir kalinya.                                                             Menghiraukan rasa takut yang kurasakan,
      Siang harinya di tengah-tengah pelajaran, firasat burukku                      Mengambil setiap kesempatan yang ada,
      benar-benar terjadi. Kami mendapat kabar dari guru wali                       Dan melakukan yang terbaik untuk meraihnya.
      kelas kami bahwa panti tempat tinggal kami terbakar. Aku,                     I'm running towards my dream and nothing can stop me
      Felix,  Jovanka,  dan  Kak  Naomi  langsung  bergegas                         now. Even just a speck of light is enough to guide me from
      menuju panti. Hanya ada satu hal yang kuinginkan saat itu.                    darkness.
      Sepanjang perjalanan, aku hanya berdoa, mengharapkan                          Setitik  harapan  yang  kumiliki  ini,  tidak  akan  pernah
      keselamatan  Mama.  Tolong  Tuhan,  tolong  selamatkan                        kubiarkan lenyap begitu saja.
      Mama. Mama selamat saja sudah sangat cukup bagiku.
      Hanya  itu  saja  Tuhan,  hanya  itu  yang  kuinginkan.
      Sungguh, hanya itu saja.
      Sesampainya  di  panti,  aku  tak  kuasa  lagi  menahan
      tangisku. Panti yang selama ini kami tinggali sudah tidak
      ada lagi, kini bangunan tersebut sudah kandas dilalap si
      jago merah, dan Mama ditemukan tewas keracunan gas
      karbon monoksida. Tuhan, mengapa hal ini harus terjadi?
      Mengapa Tuhan tidak mengabulkan doaku? Suara sirine
      dan tangis histeris terngiang-ngiang di kepalaku. Tuhan,
      apa yang harus kulakukan sekarang? Hal terakhir yang
      dapat kudengar hanyalah suara teriakan yang memanggil
      namaku.
      Hari audisi pun tiba. Aku masih berada di depan makam
      Mama, diam dengan tatapan kosong menatap batu nisan
      yang  ada  di  depanku.  Kak  Mona  yang  sedari  kemarin
      menemaniku  menangis  semalaman  memelukku  dan
      mengelus bahuku lembut. "Lia, kamu tidak jadi ikut audisi
      itu?" Aku hanya diam dan menunduk ke bawah. "Lia, kamu
      ingat apa yang Mama katakan kepadamu kemarin? Kak
      Mona juga yakin ini bukanlah yang Mama inginkan. Tuhan
      punya rencana, Lia, dan rencana-Nya selalu indah dalam
      hidup kita." "Tapi, Kak-" "Jangan pernah menyerah untuk
      mengejar  mimpimu."  suara  yang  familiar  memotong
      kalimatku. Aku memalingkan pandanganku menuju arah
      suara  tersebut.  "Tuhan  memberikan  kita  impian  yang
      begitu besar agar kita bisa tumbuh di dalamnya.
   5   6   7   8   9   10   11   12   13